Rabu, 14 September 2016

Baituzzakah Pertamina,Beasiswa BAZMA 2016,Scholarship Baituzzakah Pertamina



Inilah Saya Bagi Keluarga
 Saya terlahir dari keluarga sederhana, anak pertama dari tiga bersaudara. Saya mempunyai 2 orang adik, laki-laki dan perempuan. Pendidikan yang diajarkan orang tua saya terbilang cukup keras kepada anak-anaknya. Sebagai anak pertama saya di tuntut untuk mengerti kondisi perekonomian keluarga dan memberikan contoh sikap yang baik terhadap adik-adik saya. Hasil pengajaran yang orang tua saya berikan membuat kami,ketiga anaknya pun berkarater bermental baja. Kata “MENYERAH” tidak ada dalam kamus hidup kami.Orang tua saya pun sering kali berkata kepada anak-anaknya “Jadilah Manusia yang Bermental Baja” . Kami pun sudah mengerti arti dari perkataan “baja” yang sesungguhnya. Baja adalah besi yang kekuatannya sangat kuat dan sulit untuk dipatahkan diharapkan kami anak-anaknya mempunyai mental yang kuat,jangan mudah menyerah,memiliki impian-impian yang besar dan apapun cobaan hidup hadapi dengan berani dan tegar.
Hidup dalam keterbatasan merupakan perjalanan hidup saya.Pekerjaan orang tua pun tidak menentu semenjak ayah saya terkena PHK pada tahun 2012.Pada tahun itu saya masih duduk di bangku SMA swasta kelas 1. Biaya sekolah semakin menumpuk disebabkan penunggakan uang sekolah karena tidak mampu membayar,tetapi saya tidak akan menyerah dengan keandaan saya pun mencoba berusaha menjual buku soal-soal persiapan masuk Perguruan Tinggi Negeri kepada kakak-kakak kelas saya.Syukur saya panjatkan kepada Tuhan  karena hasil dari penjualan buku tersebut cukup menutupi uang sekolah selama 2 bulan. Kondisi ini terjadi karena pendapatan orang tua saya yang minim.
Semenjak duduk di bangku SMA saya rajin untuk mencari beasiswa guna mendukung berjalannya kegiatan sekolah saya karena mengandalkan gaji orang tua pun tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Sadar akan keterbataan orang tua saya untuk menyekolahkan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi, saya pun giat belajar untuk mendapatkan Perguruan Tinggi Negeri,dan Tuhan pun mendengar doa-doa saya akhirnya saya mendapatkan Perguruan Tinggi Negeri di Jakarta yang lokasi nya tidak terlalu jauh dari rumah.
Semenjak kuliah saya merasa beban moral dan tanggung jawab lebih besar di bandingkan saat SMA dulu.Saat kuliah saya berusaha untuk tidak meminta uang saku kepada orang tua saya,untuk memenuhi kebutuhan perkuliahan,saya pun mencari pekerjaan sampingan yaitu mengajar dan menjaga tempat rental playstasion (ps) 3 milik saudara saya.Sepulang kuliah saya usahakan untuk mencari uang,terkadang saya mengajar sampai jam 8 malam guna untuk mencukupi segala keperluan kuliah saya.Hari Sabtu dan Minggu pun saya jadikan wadah untuk mencari uang,di saat orang lain menghabiskan waktu liburnya dengan bersantai,saya pun tidak saya mencari uang dengan menjaga rental playstasion.
Sebagian orang berpandapat bahwa penjaga rental playstasion itu laki-laki,banyak orang-orang yang bertanya kepada saya kenapa bersedia penjaga rental PS karena dominasi pengunjungnya adalah laki-laki saya pun mempunyai beberapa alasan : Pertama lokasi rental playstasion yang tidak terlalu jauh dari rumah Kedua : Pekerjaan ini tidak memakan waktu dan teanag yang banyak dan saya bisa meluangkan waktu untuk mengerjakan tugas perkulihan saya.Honor saya menjaga rental dan mengajar saya jadikan untuk uang transportasi saya ke kampus,uang saku dan untuk membeli buku kuliah. Saya juga membiayai uang sekolah adik saya yang masih duduk di bangku SMP.Merasakan sulitnya mencari uang saya terapkan hidup hemat dalam keseharian saya.
Setiap hari saya kuliah di sertai bekerja, Untuk bermain dengan kawan pun sudah tidak terpikirkan oleh saya. Ada kondisi dimana saya iri melihat teman-teman di kampus yang hidup berkecukupan,akan tetapi rasa iri itu saya hiraukan dan membayangkan hidup itu indah pada masa nya kelak nanti dan saya pun harus selalu tetap memegang teguh dengan impian-impian yang ingin saya capai.Saya yakin tuhan tidak pernah menutup mata bagi hambanya yang berusaha.Itulah perkataan ibu saya yang saya tanamkan dalam hati.Walaupun hidup dalam keterbatasan akan tetapi saya mempunyai sejuta mimpi yang tidak terbatas.
Semua itu saya lakukan untuk keluarga saya.Saya berusaha meringankan beban orang tua saya dengan cara tidak meminta uang saku dari mereka.Saya sadar pendidikanlah yang bisa menjadi jalan merubah hidup saya.Masih ada 2 orang adik yang di tanggung oleh orang tua saya.Menjadi anak pertama harus memberikan contoh sikap yang baik kepada adik-adik contohnya dengan memiliki jiwa mandiri dan tidak bergantung pada orang tua.
Saya selalu berusaha untuk selalu mengambil sks maksimal di setiap semesternya guna untuk memepercepat masa studi saya di UNJ. Pengajuan beasiswa yang saya tujukan kepada Baituzzakah Pertamina di harapkan bisa menerima saya menjadi beaswan Baituzzakah.Bantuan dari Bituzzakah Pertamina sangat  berguna bagi keberlangsungan perkuliahan saya .Terimakasih



Inilah Saya Bagi Keluarga

Saya terlahir dari keluarga sederhana, anak pertama dari tiga bersaudara. Saya mempunyai 2 orang adik, laki-laki dan perempuan. Pendidikan yang diajarkan orang tua saya terbilang cukup keras kepada anak-anaknya. Sebagai anak pertama saya di tuntut untuk mengerti kondisi perekonomian keluarga dan memberikan contoh sikap yang baik terhadap adik-adik saya. Hasil pengajaran yang orang tua saya berikan membuat kami,ketiga anaknya pun berkarater bermental baja. Kata “MENYERAH” tidak ada dalam kamus hidup kami.Orang tua saya pun sering kali berkata kepada anak-anaknya “Jadilah Manusia yang Bermental Baja” . Kami pun sudah mengerti arti dari perkataan “baja” yang sesungguhnya. Baja adalah besi yang kekuatannya sangat kuat dan sulit untuk dipatahkan diharapkan kami anak-anaknya mempunyai mental yang kuat,jangan mudah menyerah,memiliki impian-impian yang besar dan apapun cobaan hidup hadapi dengan berani dan tegar.
Hidup dalam keterbatasan merupakan perjalanan hidup saya.Pekerjaan orang tua pun tidak menentu semenjak ayah saya terkena PHK pada tahun 2012.Pada tahun itu saya masih duduk di bangku SMA swasta kelas 1. Biaya sekolah semakin menumpuk disebabkan penunggakan uang sekolah karena tidak mampu membayar,tetapi saya tidak akan menyerah dengan keandaan saya pun mencoba berusaha menjual buku soal-soal persiapan masuk Perguruan Tinggi Negeri kepada kakak-kakak kelas saya.Syukur saya panjatkan kepada Tuhan  karena hasil dari penjualan buku tersebut cukup menutupi uang sekolah selama 2 bulan. Kondisi ini terjadi karena pendapatan orang tua saya yang minim.
Semenjak duduk di bangku SMA saya rajin untuk mencari beasiswa guna mendukung berjalannya kegiatan sekolah saya karena mengandalkan gaji orang tua pun tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Sadar akan keterbataan orang tua saya untuk menyekolahkan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi, saya pun giat belajar untuk mendapatkan Perguruan Tinggi Negeri,dan Tuhan pun mendengar doa-doa saya akhirnya saya mendapatkan Perguruan Tinggi Negeri di Jakarta yang lokasi nya tidak terlalu jauh dari rumah.
Semenjak kuliah saya merasa beban moral dan tanggung jawab lebih besar di bandingkan saat SMA dulu.Saat kuliah saya berusaha untuk tidak meminta uang saku kepada orang tua saya,untuk memenuhi kebutuhan perkuliahan,saya pun mencari pekerjaan sampingan yaitu mengajar dan menjaga tempat rental playstasion (ps) 3 milik saudara saya.Sepulang kuliah saya usahakan untuk mencari uang,terkadang saya mengajar sampai jam 8 malam guna untuk mencukupi segala keperluan kuliah saya.Hari Sabtu dan Minggu pun saya jadikan wadah untuk mencari uang,di saat orang lain menghabiskan waktu liburnya dengan bersantai,saya pun tidak saya mencari uang dengan menjaga rental playstasion.
Sebagian orang berpandapat bahwa penjaga rental playstasion itu laki-laki,banyak orang-orang yang bertanya kepada saya kenapa bersedia penjaga rental PS karena dominasi pengunjungnya adalah laki-laki saya pun mempunyai beberapa alasan : Pertama lokasi rental playstasion yang tidak terlalu jauh dari rumah Kedua : Pekerjaan ini tidak memakan waktu dan teanag yang banyak dan saya bisa meluangkan waktu untuk mengerjakan tugas perkulihan saya.Honor saya menjaga rental dan mengajar saya jadikan untuk uang transportasi saya ke kampus,uang saku dan untuk membeli buku kuliah. Saya juga membiayai uang sekolah adik saya yang masih duduk di bangku SMP.Merasakan sulitnya mencari uang saya terapkan hidup hemat dalam keseharian saya.
Setiap hari saya kuliah di sertai bekerja, Untuk bermain dengan kawan pun sudah tidak terpikirkan oleh saya. Ada kondisi dimana saya iri melihat teman-teman di kampus yang hidup berkecukupan,akan tetapi rasa iri itu saya hiraukan dan membayangkan hidup itu indah pada masa nya kelak nanti dan saya pun harus selalu tetap memegang teguh dengan impian-impian yang ingin saya capai.Saya yakin tuhan tidak pernah menutup mata bagi hambanya yang berusaha.Itulah perkataan ibu saya yang saya tanamkan dalam hati.Walaupun hidup dalam keterbatasan akan tetapi saya mempunyai sejuta mimpi yang tidak terbatas.
Semua itu saya lakukan untuk keluarga saya.Saya berusaha meringankan beban orang tua saya dengan cara tidak meminta uang saku dari mereka.Saya sadar pendidikanlah yang bisa menjadi jalan merubah hidup saya.Masih ada 2 orang adik yang di tanggung oleh orang tua saya.Menjadi anak pertama harus memberikan contoh sikap yang baik kepada adik-adik contohnya dengan memiliki jiwa mandiri dan tidak bergantung pada orang tua.

Saya selalu berusaha untuk selalu mengambil sks maksimal di setiap semesternya guna untuk memepercepat masa studi saya di UNJ. Pengajun beasiswa yang saya tujukan kepada Baituzzakah Pertamina di harapkan bisa menerima saya menjadi beaswan Baituzzakah.Bantuan dari Bituzzakah Pertamina sangat  berguna bagi keberlangsungan perkuliahan saya .Terimaksih